Mengatasi Cancel Culture ala Film Budi Pekerti

Selesai menonton film Budi Pekerti, saya terdiam cukup lama. Banyak pikiran berseliweran. Bagaimana sebuah peristiwa sehari-hari bisa menjadi penyebab cancel culture sedahyat itu bagi seorang guru SMP. Banyak sisi dalam film ini yang membuat pikiran saya sibuk berkelana.

Mengatasi Cancel Culture ala Film Budi Pekerti


Bu Prani, guru SMP yang terbilang sukses bahkan menjadi kandidat kuat wakasek kesiswaan di sekolahnya berakhir menjadi seorang yang terusir dari lingkungannya, dunianya, bahkan beserta seluruh keluarga. Mereka  terjungkir balik kembali ke titik nadir. 

Oh iya, dari sejumlah foto tampak ada ring light dalam satu frame sebagai simbol yang penting. Benda ini membantu meningkatkan penampakan yang diinginkan saat membagikan video, juga benda yang dianggap penting oleh keluarga ini, terutama anak-anak, karena pandemi membuat mereka menjadi pejuang cuan di media sosial. 

Sedahsyat itulah yang terjadi ketika seorang yang tak sehebat J.K Rowling, Jerinx dan artis-artis Korea terkena cancel culture atau budaya pengenyahan para warganet yang tidak budiman. Semoga sobat Susindra menjadi lebih bijak dalam bermedia sosial, ya.


Sinopsis Budi Pekerti

Prani Siswoyo, seorang guru BK yang punya cara unik dalam menyadarkan kesalahan muridnya. Jika orang lain menyebutnya hukuman, Bu Prani menyebutnya "refleksi".

Bukan refleksi yang unik melainkan caranya. Anak yang gemar tawuran diminta melakukan refleksi menjadi penggali kubur, anak yang mengumpat temannya dihukum memperdengarkan kecambahnya dengan kata yang digunakan untuk mengumpat, yaitu: bodoh, tolol, pekok dkk. 

Tak semua separah itu, saya ambil contoh yang menurut saya perlu direfleksi. Buktinya banyak sekali "murid nakal" yang menjadi orang baik nan sukses dan mencintainya. 


Suaminya, Didit Wibowo, mengalami depresi karena usahanya selalu gagal. Demi membujuk suami tercinta, Prani berjanji membelikan kue putu yang sedang viral di medsos. Gora, mantan murid yang dihukum menjadi penggali kubur menyebutnya saat mereka bertemu di kantor psikiater. Oh iya, film ini mengambil setting pandemi covid lalu. Banyak pengusaha kecil yang ekonominya hancur.

Prani membeli kue putu sebelum berangkat latihan kontes grub menari. Penjual kue putu sudah sepuh dan para pembeli rela antri. Antrian berdasarkan kedatangan pembeli. Bu Prani dapat antrian ke-66. Lama sekali tentunya, sementara ia sudah terlambat latihan. 

Antrian sepanjang itu selalu diserobot dengan cara titip pesanan. Berkali-kali demikian. Bu Prani menjadi marah dan mengingatkan seorang bapak yang melakukannya. Mereka cekcok dan umpatan Bu Prani "Ah suwi" diviralkan menjadi "asu i" dan dibuatkan lagu. Cyber bullying atau peundungan siber terjadi. Netizen marah besar karena yang diasukan adalah nenek tua penjual putu. Budi pekerti Bu Prani dipertanyakan. Sosoknya dicari.

Bukan hal sulit karena pakaian seragam yang dipakai saat itu. Demi mengurangi hujatan, Bu Prani membuat postingan klarifikasi. Ia cukup bijak dengan menutupi wajah si bapak penyerobot antrian.

Bola panas pro-kontra di medsos terjadi. Banyak yang menjadi simpati dan berbalik menghujat si bapak x tersebut. 

"Kebengisan netizen" - kalau kita bisa sebut demikian - membuat si bapak penyerobot antrian menyerang balik Bu Prani dengan ancaman pidana. Keduanya menjadi korban cyber bullying dan bereaksi dengan cara mereka sendiri-sendiri. 

Pro kontra terjadi. Seperti bola panas, lajunya tak terkendali. Dukungan dan hujatan sama-sama diberikan pada kedua belah pihak. Para pencari cuan semakin semangat menggali segala sisi demi kata viral dan FYP. 

Refleksi yang diberikan pada Gora sebagai penggali kubur menjadi hujatan paling parah. Gora menghilang..... 

Bu Prani punya dua anak yang bekerja sebagai influencer. Yang satu punya niche healing dan yang satu niche kemanusiaan. Keduanya terimbas peristiwa itu dan dihujat sana-sini. 

Para mantan murid mencoba membantu. Mereka membuat video testimoni berterima kasih pada guru mereka ini. 

Gerakan membantu ini juga patah bahkan mereka ikut terimbas parah. Semua pintu tertutup rapat. 




Tita mencoba menggali sisi lain yaitu membuat video klarifikasi penjual kue putu yang dikabarkan meninggal sekeluarga akibat covid (dan Bu Prani diasumsikan sebagai pemberi virus). Video ini dibuat tanpa izin dan membuat anak si penjual putu marah besar. Prani sekeluarga semakin tersudut. Video ini berhasil diputarbalikkan sehingga menambah kegaduhan, meningkatkan kekuatan cyber bullying, bahkan menggerakkan pemboikotan massal yang bisa kita sebut cancel culture.

Posisi strategis Gora sebagai salah satu anggota tim yang memviralkan  kue putu memberi syak prasangka bahwa ia pembuat rencana demi cuan. Posisi Muklas dan Tita (dua anak Bu Prani) sebagai anggota tim pencari cuan juga memberi sisi lain untuk menunjukkan carut-marut berita viral ini semakin kusut. 

Mungkin mereka menggali dan menyampaikan fakta demi cuan belaka, namun netizen yang menontonnya punya pendapat lain dan bersama-sama melakukan cancel culture atau budaya pengenyahan pada sosok guru BP yang bahkan tak memiliki rumah sendiri dan terlambat membayar kontrakan beberapa bulan.

Menjelang ending, penonton Budi Pekerti diberi pukulan telak berupa sisi kepahlawanan seorang Prani. Gora berhasil ditemukan. Meski enggan namun demi Bu Prani ia bersedia membuat video konfirmasi. Namun Bu Prani menolak bantuan Gora karena tak mau netizen menggali alasan Gora ke psikiater. Dalam kondisi di ujung tanduk Bu Prani bertekad menjadi pahlawan bagi Gora dan memutuskan menghilang. Dia sudah kehilangan segalanya dan tak ingin memberi celah baru untuk netizen berhujat.

Keluarga kecil ini kehilangan segalanya. Dalam ending film, Tita membeli bakso satu bungkus untuk dimakan berempat. Hanya segelintir bakso untuk setiap orang, dimakan dengan rasa syukur. 

Mereka mungkin kehilangan segalanya namun mereka menjadi keluarga dekat yang saling menjaga.


Cancel Culture, cyber bullying dan spiral of silence: Studi kasus film Budi Pekerti

Film Budi Pekerti bukan hanya tentang cancel culture, cyber bullying dan spiral of silence. Premis ceritanya menarik. Penggarapannya juga apik. Yang suka mengandalkan pemeran berbakat, nama-nama di bawah ini bisa jadi garansi kualitas prima film ini.

Sha Ine Febriyanti sebagai Prani Siswoyo

Dwi Sasono sebagai Didit Wibowo

Angga Aldi Yunanda sebagai Muklas "Animalia" Waseso

Prilly Latuconsina sebagai Tita Sulastri

Film ini juga terpilih sebagai official selection di SXSW Sydney 2023 Screen Festival (15—22 Oktober 2023) di Sydney, Australia serta terpilih menjadi film pembuka di Jakarta Film Week (JFW) 2023 pada 25—29 Oktober 2023. Masih banyak prestasi lainnya, yaitu mendapatkan 17 dari 22 nominasi di FFI 2023. Nominasi terbanyak yang pernah ada.  Hasilnya Sha Ine Febriyanti menangkan piala Citra 2023 sebagai pemeran utama terbaik dan Prili mendapatkan piala pemeran pendukung terbaik. 



Cancel culture dan cyber bullying menjadi hal yang menarik sekali bagi saya karena, ternyata fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja. Jika dulu gerakan ini menjadi hal baik dalam pemboikotan sebuah produk yang tidak berperikemanusiaan dan tidak berperikehewanan, makin ke sini gerakan ini dibuat secara serampangan demi cuan oleh beberapa gelintir konten kreator yang kurang memahami budi pekerti. Bahkan yang memahami pun bisa tergelincir pula atas nama solidaritas atau kesamaan sikap. 

Ternyata budaya cancelling bisa menargetkan siapa saja. Siapapun yang viral dapat dihujat dan dipuja. Semua tergantung pada narasi pembuat wacana dalam bentuk video atau tulisan penyampainya....

Kalau budaya pengenyahan dulunya hanya terjadi pada tokoh-tokoh selebritas, yang tidak pernah secara resmi dihukum karena pelanggaran pidana, sekarang menimpa siapapun.

Kasus simbok pembuat putu dalam film Budi Pekerti juga  membuktikannya. Video kuliner tentangnya menjadi viral dan ia kewalahan melayani pelanggan. Jika ia sejak dulu puas dengan beberapa ratus putu sehari, sekarang harus melayani dua ribu putu. Video jujurnya menjadi bola panas sehingga anaknya dihujat dan mereka membalas pula sehingga posisi Bu Prani sekeluarga semakin rentan.

Kalau ada yang mengatakan gerakan ini muncul tahun 2000an, saya tak bisa memberi pendapat apapun. Namun ada fakta menarik bahwa ada sebuah metode penelitian yang dapat menjadi "pisau bedah" bagi fenomena ini. Namanya teori spiral of silence dari Neumann. Teori ini muncul tahun 1974.

Meskipun terlahir jauh sebelum gerakan cancel culture namun teori ini bisa digunakan untuk membedah bagaimana sosial media memiliki peran penting dalam membingkai isu dan membungkam orang-orang yang memiliki suara yang minor. 

Bu Prani dan para pendukungnya ini menjadi contoh pemilik suara minor. Apapun yang mereka nyatakan selalu menjadi bom penghancur kredibilitas mereka. Menjadi mafhum saat melihat para pembela Bu Prani menjadi sangat defensif bahkan membuat pertahanan mutlak.

Wregas Bhanuteja sebagai penulis dan sutradara film Budi Pekerti (judul bahasa Inggrisnya Andragogy) mengaku terinspirasi dari banyaknya kasus cyber bullying yang terjadi pada seseorang setelah video tentangnya menjadi viral di dunia maya. Ia mengajak para penonton untuk merefleksikan dan mendiskusikan lagi tentang tindakan merundung seseorang di media sosial.

Fenomena cancel culture atau budaya pengenyahan, atau kita bisa menyebutnya sebagai pemboikotan massal merupakan fenomena menarik di era virtual. Sebuah peristiwa sederhana yang divideokan dan diunggah di media sosial dapat menarik rasa simpati dan empati, bahkan antipati dari banyak orang, sehingga bisa menggerakkan  suatu sikap bersama. Bisa berupa tindakan perundungan karena persepsi buruk yang disematkan kepadanya, hingga tidak jarang berujung pada pengucilan bahkan pengenyahan.


Mengatasi cancel culture ala Film Budi Pekerti

What if....

What if...

What if...

Seandainya Bu Prani dalam film Budi Pekerti diam saja seperti saran Muklas (anaknya), apakah cyber bullying yang ia terima berhenti? tentu tidak. Sudah menjadi kelaziman di era virtual, para pembuat konten dan follower ingin menggali dan mengomentari semua hal yang sedang viral, dari semua sisi, yang masuk akal sampai yang absurd. 

Begitu banyak kasus viral yang terjadi bisa menjadi contoh. Namun memang sangat mungkin tak sampai terjadi pengenyahan atau biasa disebut cancel culture. Alasannya karena netizen mudah lupa ketika ada hal menarik yang baru.

Sehari sebelum menonton film ini, anak mbarep saya bercerita tentang konten kreator yang di-unfollow massal gara-gara dianggap bohong dengan janjinya membagikan i-phone. Ia cukup skeptis dengan menggali asal muasal kasus ini dan tidak ikut serta gerakan ini. 

Dalam film Budi Pekerti Bu Prani membela diri dengan klarifikasi. Kesalahannya adalah kurang hati-hati dalam menampilkan identitas sesebapak yang menyerobot antrian. Menutup muka saja tak cukup karena netizen cukup jeli mencari sebuah gambar kaos yang ia pakai. 

Sama seperti bagaimana netizen ikut bergerak dalam mencari sosok pegi sebagai terduga pembunuhan Vina. Polisi dengan cyber crime kalah canggih dan kalah ulet dengan netizen yang sudah tergerak hati dan tangannya.

orang biasa bisa kena Cancel Culture


Kesalahan Bu Prani ini bisa jadi pembelajaran jika ingin membuat klarifikasi saat mendapatkan cyber bullying. Jangan berikan celah sedikit pun untuk ditemukan netizen yang sudah terlanjur emosi.

Para mantan murid yang sudah sukses di bidangnya masing-masing ikut serta membuat gerakan membela Bu Prani, guru yang dianggap sangat berjasa dalam hidup mereka. Video testimoni dibuat dan bisa membalikkan netizen menjadi simpati. 

Bantuan besar ini menjadi pisau bermana ganda dan membunuh karakter Bu Prani secara mutlak. Video Gora tentang refleksi berupa menggali kubur menjadi bahan cuan temannya sendiri yang tahu kebutuhannya menjalani pengobatan. Mereka membuat narasi baru dengan bantuan para psikolog kondang yang diajak ikut bersuara. Mungkin mereka pun tak pernah mengikuti kasus yang ia komentari. 

Jadi, pelajaran apa yang bisa dipetik dari film Budi Pekerti ini? Apakah klarifikasi tak perlu dilakukan lagi agar tak seperti Bu Prani yang berakhir lenyap, hanya bersisa keluarga yang telah patah semua sayapnya? 

Menurut saya klarifikasi tetap harus dilakukan dan memanglah hak kita. Namun saat membuat video klarifikasi, pastikan untuk membuatnya dalam sebuah tim profesional yang dapat menganalisis dalam berbagai segi dan dapat menangkap persepsi dalam berbagai kacamata. Inilah kesalahan Bu Prani dan para muridnya. Mereka menyisakan celah yang dapat diperlebar dan diiris sesuai keinginan netizen. 

Suatu kebetulan drama Cina berjudul As beauty As You episode 28 menarasikan fenomena cancel culture yang dialami perusahaan Ji Xing. Jikalau Ji Xing mengirim komentar yang ia tulis, maka perusahaannya menjadi rubuh dan sulit bangkit. Ia memilih membuat tim profesional untuk memperkenalkan perusahaannya di saat sedang viral dan banyak hujatan. Sesuatu yang viral, seburuk apapun, akan mengundang kekepoan dan simpati-empati. 

Hal yang sebenarnya sudah dilakukan oleh murid-murid Bu Prani, hanya saja mereka kurang hati-hati menyortir cerita.... Jadi, tim profesional yang dapat mengenali semua celah menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan saat mengalami pembunuhan karakter di media sosial.  Itulah cara mengatasi cancel culture yang tepat menurut saya, berdasarkan pengamatan setelah menonton film Budi Pekerti dan cdrama As beauty As You episode 28.


Penutup

Istilah cancel culture atau budaya boikot massal pada seseorang atau pihak yang dianggap bermasalah cukup sering kita temukan saat ini. Saat sedang santai membaca berita terkini pun kita sangat mungkin terjebak dalam penggiringan opini. 

Seperti cerita sederhana Destin pada saya tentang unfollow massal yang terjadi pada konten kreator yang ia ikuti, yang menggerakkan saya pada film Budi Pekerti di netflix dan kebetulan bersamaan dengan cdrama As beauty As You episode 28 di WeTV. 

Banyak hal bisa terjadi secara kebetulan, namun bukan kebetulan kalau saya menulis artikel ini. Saya ingin mengajak para pembaca budiman agar jeli saat melihat cerita di media sosial dan tidak dengan mudah untuk bergerak atau menggerakkan tindakan tertentu pada sesuatu yang viral. 

Jika sudah menyangkut privasi, sebaiknya langsung tinggalkan, karena mungkin ada tangan yang bermain demi cuan. Menjaga aib orang lain lebih utama, sesuai janji Allah akan menjaga aib hamba-Nya yang mau menjaga aib orang lain.

Tak ada benar-salah yang mutlak, karena kita manusia memang diberi emosi dan akal. Beberapa culture atau budaya bisa beda bahkan bertolak belakang. Maka menjadi bijak berkomentar dan bertindak penting dilakukan.

Film Budi Pekerti bisa ditonton dan direnungkan karena semua karakter di film punya sisi baik-buruknya manusia. Dan pada akhirnya pun mereka mengambil jalan paling logis yang bisa dilakukan siapa saja yang punya nasib seperti mereka. 

Para sineas mampu membolak-balikkan hati saya saat menonton film ini. Tabik, salut dan bravo untuk mereka semua. Sangat jarang saya menerima perasaan seperti saat ini setelah menonton sebuah film atau drama.



5 Komentar

  1. Kapan hari aku nonton tapi berhenti di gerakan muridnya yg bikin video testimoni itu.. Agak berat filmnya dan ga konsen krn sambil ada bocil. Tp ngikutin awal2 kayak mikir banget gitu lho..

    Ada istilah waktu yg akan menjawab... Klarifikasi mmg perlu tp ya gitu suka diplintir lagiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciri khas filmnya Ine, nih. Aku nyebutnya film teatrikal. Kalau suka semiotik malah bisa sibuk menerjemahkan simbol-simbol yang ada.

      Hapus
  2. Menurut daku film yang related dengan kehidupan sih ya. Jadi pembelajaran juga, buat bisa tahan diri, khususnya kalo ada sesuatu yang viral. Gak serta merta, langsung ikut bikin panas suasana dengan layangkan komentar

    BalasHapus
  3. Aku baca cerita disini sampai 2x saking seru jalan ceritanya, epik dan banyak sisi edukatif yg bisa didapat dari film ini, penasaran pgn nonton langsung filmnya

    BalasHapus
  4. Udah nonton filmnya dan bener2 bisa dijadikan pelajaran banget. Di era digital seperti ini emang harus lebih hati-hati lagi dalam merespon segala sesuatu jangan sampai kita terpancing emosi sesaat

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)